Tuesday, November 5, 2013

Dongeng Tentang Gadis Pelangi



Di suatu desa yang jauh dari hiruk pikuk kota hiduplah dua orang anak perempuan berambut merah menyala. Mereka tinggal di rumah kecil yang nyaman dan hangat bersama kedua orangtua yang adalah petani. Mereka senang sekali mendengarkan kisah-kisah yang biasanya diceritakan oleh Kakek Negeri Seberang. Kali ini ketika matahari sudah mulai lelah bersinar, kedua anak itu menerobos masuk ke gubuk si Kakek dan menagih janjinya bercerita tentang Gadis Pelangi. Kakek itu mengajak mereka duduk di samping jendela yang menghadap air terjun Pengharapan dan menyuguhkan coklat hangat terlezat di seluruh dunia.

"Baiklah gadis-gadis kecil. Aku akan mulai bercerita dan kalian harus duduk mendengarkan dengan baik dan berpikir bijaksana pada setiap kata yang kuucapkan..." pesan Si Kakek seperti biasa. 
Kedua anak perempuan itu mengangguk antusias dan gelisah tak sabar menunggu cerita dimulai.
"Dongeng ini berkisah tentang Gadis Pelangi.... Pada satu masa yang tak mungkin kau temukan di rantai waktu..."

+++

Pada satu masa yang tak mungkin kau temukan di rantai waktu, pada satu tempat yang tak pernah tercatat pada peta dunia, hiduplah seorang Gadis Pelangi. Ia adalah seorang gadis periang sekaligus pemalu yang senang sekali berkhayal sambil mengisi Bejana di kaki Pelangi. Setiap hari ia akan berlari menunggu sepi dan menyelinap menaiki Pelangi Ungu. Melamunkan dunia, melamunkan langit yang di atas dan langit yang di bawah. 

Orangtuanya adalah orangtua yang begitu keras. Melihat tingkah si Gadis yang senang bekhayal, si Ibu takut anaknya akan sampai pada Pintu Cinta di tepi khayalannya yang paling jauh. Si Ibu memberitahu Ayah dan mereka mulai gelisah. Pintu Cinta hanya datang pada mereka yang senang berkhayal, yang berjalan terlalu jauh meninggalkan dunia. Dan itu sama sekali bukan hal yang baik. Pintu Cinta membuat tersesat dan mengaburkan jalan pulang. Mereka menasihati sang Gadis untuk berhenti menaiki Pelangi dan mengerjakan apa yang sebaiknya ia kerjakan; mengisi Bejana Pelangi dengan tinta yang dihasilkan Bunga-bunga Ajaib dari kebun Kerajaan. 

Namun tanpa mereka sadari, sekarang sudah terlalu terlambat. Si Gadis memang berhenti menaiki Pelangi. Ia hanya duduk-duduk menunggu sore dan menutup Bejana ketika malam. Kembali ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Tapi langit-langit itu telah berbohong sejak lama. Ia berkhianat dengan membuka jalan bagi si Gadis untuk masuk ke Pintu Cinta yang sekarang tidak seberapa jauh. Si Gadis berjingkat masuk dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan rupa seorang Pemuda di Cermin Khayalan yang bergelantungan tertiup angin. Si Gadis berusaha menggapai namun ia hanya menyentuh kehampaan sampai akhirnya ia menyerah dan kembali pulang. 

Betapa hebatnya pengaruh Pintu Cinta itu hingga berhari-hari kemudian. Sekembalinya dari sana Si Gadis tak mampu lagi tersenyum atau sekedar menyapa. Ia berlari ke rumah Tabib Penyembuh berkata bahwa ada yang salah dengan hatinya yang tak berhenti sakit. Tabib hanya menggeleng tak menemukan satu penjelasan apa pun. Si Gadis kecewa karena ia merasa sakit sekali. Ia tak sanggup dan hanya ingin sembuh. 

"Mungkin kau Jatuh Cinta..." kata salah seorang sahabatnya.
"Apa itu?" tanya Si Gadis ketakutan.
"Kau tahu, hal-hal yang sering dialami manusia. Jatuh Cinta. Lupa Diri. Sakit Hati. Semua satu paket ketika kau membuka Pintu Cinta itu. Ibuku yang bilang," lalu ia menceritakan kisah sejati lain tentang kekuatan Tinta Pelangi dalam Bejana yang selalu mereka isi.
"Tinta itu mampu mengabulkan Cinta Sejati. Coba saja," sarannya.

Si Gadis berpikir sejenak. Ia begitu kesakitan hingga tak berani menatap langit-langit kamarnya setiap malam. Takut kalau ia akan tergoda lagi dan pergi ke sana. Takut ia akan melihat Pemuda itu lagi. Pemuda yang membuatnya Jatuh Cinta. Kemudian ia memutuskan untuk mencuri sedikit cairan Keajaiban dari dalam Bejana Pelangi.

Ia menyembunyikannya di balik jubah panjang berkerudungnya dan diam-diam duduk di bawah pohon terjauh dari desa. Ia mengambil ranting kecil yang tampak kokoh dan mencelupkannya sedikit. Ia mengambil sehelai daun kering dan membentangkannya dipangkuan, betumpu pada siku kemudian mulai menulis... Menulis kisah cintanya sendiri. 

Keesokan harinya, si Gadis pergi untuk bekerja dan kembali ke pohon persembunyiannya pada sore hari. Ketika ia memungut daun yang kemarin ditulisnya, tanpa peringatan Huruf-huruf di atas daun kering itu menarik lengan dan kakinya masuk ke dalam Kisah Cintanya. Gadis itu berteriak kencang tapi tak ada yang mendengar sampai ketika ia membuka mata, ia telah berada di dunia Langit Atas. Ia tahu karena ia melihat Pelangi jauh di bawah kakinya. 

Si Gadis melangkah ketakutan dan kemudian terperangah melihat sesosok dihadapannya. Si Pemuda dalam bentuk nyata. Tak lagi imaji dalam Cermin Khayalan. Pipinya merah dan rambut hitamnya melambai malas digoda angin. Si Gadis mendekatinya dan menyentuh lengannya. Sontak si Pemuda menangkis sentuhan itu dan memandangnya curiga.

"Maaf," seru si Gadis kelewat riang, "Apa yang kau lakukan di sini?" ia penasaran.
Si Pemuda mencari-cari dalam matanya tapi kemudian berbalik dan berkata, "Mengejar Cinta," jawabnya singkat dan berlari meninggalkan si Gadis tanpa menoleh. 
Si Gadis menangis karena ternyata Pemudanya punya Cinta sendiri. Miliknya hanyalah si Pemuda dalam Cermin. Bukan pemuda berpipi merah yang ini. Ia kembali dan meminta Huruf-huruf itu untuk membawanya pulang. Ia bertekad akan pergi ke Tabib dan meminta hatinya dibuang saja. Ia sudah tidak memerlukannya lagi. Ia hanya ingin hidup sendiri.

Ayah dan Ibu si Gadis menyambutnya. Mereka menangis bersama dan memutuskan membuang potongan kehidupan yang menyakitkan itu. Si Gadis tak pernah lagi mengingat Pintu Cinta dan membuang jauh langit-langit kamar yang mengkhianatinya.

+++

"Apa si Gadis menulis Kisah Cinta yang lain?" tanya anak paling kecil.
"Siapa Pemuda itu Kek?" timpal kakaknya.
Si Kakek menghela nafas. Ia menutup jendela dan berpaling pada keduanya,"Silakan tanya pada si Gadis sendiri," jawabnya sambil menjulurkan Cermin berbingkai perak.

No comments: