Wednesday, March 11, 2015

#Random - Living The Life




Living the life. Hidup dalam hidup itu sendiri atau menjalani hidup atau menghidupi hidup. Yang mana saja!
Semua orang yang bernafas pasti 'living the life' tanpa ditanya dulu mau atau tidak. 
Tidak ada satu pun orang yang minta dilahirkan kedua -- well, teori ini bisa jadi salah sih, karena tidak ada yang pernah benar-benar berfokus pada kehidupan SEBELUM kehidupan itu sendiri. Yang sering kita dengar pastilah kehidupan SETELAH kehidupan ini.




Dari fase bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa tak ada yang benar-benar siap. Setiap anak kecil didorong memasuki ranah remaja--oleh masyarakat, oleh umur. Setiap remaja diseret masuk dunia orang dewasa--sekali lagi oleh masyarakat, oleh umur. Dengan embel-embel "ketika saya seumuran dia saya rasa saya lebih rajin, lebih baik, lebih dewasa. Kenapa manusia jaman sekarang begini? Begitu?" Bukti bahwa sebagian besar orang tua sekarang JUGA diseret masuk ke dunia orang dewasa.

Sebagian orang menghabiskan hidupnya mengikuti jalan yang dia pilih sendiri. Kesusahan atau kesulitan, pasti setiap orang punya. Tapi mau menghadapi atau menghindari adalah pilihan. Atau menghadapi dengan bersusah payah, menghadapi seadanya, menghadapi dengan pasrah, juga pilihan.
Berapa banyak anak kecil yang pernah kita temui berbicara layaknya orang dewasa? Tentang hidup, tentang Tuhan, tentang pemikiran-pemikiran relatif yang kita semua harap benar adanya. Pemikiran seperti"orang baik pasti selalu menang di akhir." Seperti dalam plot-plot mainstream. Hanya saja kadang kehidupan punya alurnya sendiri. Ia malas dicap mainstream. Jadilah ia dengan plotnya yang anti-mainstream. Supaya apa? Supaya dunia banyak warnanya? Kalau banyak warnanya memangnya kenapa juga? Dengan satu-dua warna bukankah hidup tetap hidup? 

Kembali lagi ke anak kecil dengan pemikiran dewasa. Bukan anak kecil yang sok dewas-dewasaan dengan make up, tagar OOTD di akun-akun liar. Tapi anak kecil dengan prinsip. Dengan kesadaran sekaligus penyesalan diri akan hidupnya yang jauh berbeda dengan hidup anak-anak seusianya. Yang mencoba menganalisis kenapa dia jadi berbeda. Mungkin karena orang tuanya. Mungkin karena Tuhan. Tapi tidak cukup berani menyalahkan siapa-siapa. Kita pasti berdecak kagum seandainya pernah bertemu. Anak kecil yang bilang, "Kenapa sih mereka ini kekanak-kanakan sekali?" padahal dia juga anak-anak. Dan ketika diseret ke dunia dewasa sesungguhnya dia sudah terlalu lelah. Cahaya mataharinya sudah redup karena bersinar terlalu lama. Tapi sekali lagi hidup punya plotnya sendiri. Sering kali orang baik harus mati di akhir cerita. Supaya apa? Mungkin supaya penonton sadar bahwa orang yang benar-benar baik tidak pernah mengharap reward atas kebaikannya. Atau karena akal-akalan hidup saja supaya dia jadi yang paling terkenal di antara kematian, nasib, perasaan, dunia.

Pic cr : google

Sunday, February 1, 2015

The Imitation Game : Love or "Love"?



We all so proud of our love. For so many times. Love towards our boy/girlfriend, our parents, our best friends or even our self.
This movie successively made me questioning about the love I'm so proud of this whole time. Does it still allowed to called it love when your heart decided to give it to random person? because people said you can't choose to whom you fall in love. It happened to Alan Turing. His heart chose Christopher like we all have to our loved one. Homosexual had been a sensitive issue this day. But this movie brings some questions to me personally. How can a love called love? Should it be in the right place as always or we all actually can not choose at all?

Friday, November 21, 2014

A Letter Before Christmas








As you well know, we are getting closer to my birthday. Every year there is a celebration in my honor and I think that this year the celebration will be repeated.


During this time there are many people shopping for gifts, there are many radio announcements, TV commercials, and in every part of the world everyone is talking that my birthday is getting closer and closer. It is really very nice to know, that at least once a year, some people think of me. As you know, the celebration of my birthday began many years ago. At first people seemed to understand and be thankful of all that I did for them, but in these times, no one seems to know the reason for the celebration. Family and friends get together and have a lot of fun, but they don't know the meaning of the celebration. I remember that last year there was a great feast in my honor. The dinner table was full of delicious foods, pastries, fruits, assorted nuts and chocolates. The decorations were exquisite and there were many, many beautifully wrapped gifts.

But, do you want to know something? I wasn't invited.

I was the guest of honor and they didn't remember to send me an invitation. The party was for me, but when that great day came, I was left outside, they closed the door in my face .. and I wanted to be with them and share their table. In truth, that didn't surprise me because in the last few years all close their doors to me. Since I wasn't invited, I decided to enter the party without making any noise. I went in and stood in a corner. They were all drinking; there were some who were drunk and telling jokes and laughing at everything. They were having a grand time.

To top it all, this big fat man all dressed in red wearing a long white beard entered the room yelling Ho-Ho-Ho! He seemed drunk. He sat on the sofa and all the children ran to him, saying: "Santa Claus, Santa Claus"as if the party were in his honor! 

At midnight all the people began to hug each other; I extended my arms waiting for someone to hug me and do you know no-one hugged me. Suddenly they all began to share gifts. They opened them one by one with great expectation. When all had been opened, I looked to see if, maybe, there was one for me. What would you feel if on your birthday everybody shared gifts and you did not get one?

I then understood that I was unwanted at that party and quietly left. Every year it gets worse. People only remember the gifts, the parties, to eat and drink, and nobody remembers me. I would like this Christmas that you allow me to enter into your life. I would like that you recognize the fact that almost two thousand years ago I came to this world to give my life for you, on the cross, to save you. 

Today, I only want that you believe this with all your heart. I want to share something with you. As many didn't invite me to their party, I will have my own celebration, a grandiose party that no one has ever imagined, a spectacular party. I'm still making the final arrangements..

Today I am sending out many invitations and there is an invitation for you. I want to know if you wish to attend and I will make a reservation for you and write your name with golden letters in my great guest book. Only those on the guest list will be invited to the party. Those who don't answer the invite, will be left outside. Be prepared because when all is ready you will be part of my great party. 

See you soon. I Love you!

Jesus
Share this message with your loved ones, before Christmas

Taken from here

When will you get married?


“When will you get married?” So many people ask me that question like each time they see my face. It’s not a big deal for me at all, but it just make me think that; do they really think I’m ready enough to be a wife? A mother? Because I’m only 22 years old for your information Madam, Sir. I’m too young and not ready at all – this now on. I agree that maturity is not about age, it’s inside your mind. However, you can’t get rid of how age can define someone’s maturity. I don’t think marriage in a very young age—20 – 23 yo – is a good choice.  I live in a eastern society and people used to marriage in young age. It even become a disaster when a girl not married yet in age of 25 yo! How come? I just don’t get it. I don’t avoid married in young age. I just hope that people get married because they want to, they’re ready for it. Not due to the society. 




Sunday, October 12, 2014

as one of the requirements in language ambassador of central borneo election 2011

Terbunuhnya Bahasa Dayak Ngaju di Tanah Sendiri
Oleh : Riza Sriwahyuni
Bahasa Dayak Ngaju adalah bahasa dengan penutur terbanyak di wilayah Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangka Raya sebagai ibukota provinsi. Jalan-jalan sekeliling kota dipenuhi warga Dayak yang ramah dan berbahasa santun. Dari ujung ke ujung bahasa Dayak Ngaju terngiang dengan jelas diiringi senyum dan sapaan. Anak-anak kecil berlarian meneriakan seruan dalam bahasa ibunya. Sayangnya, kejadian seperti ini berlangsung bertahun-tahun yang lalu. Seiring perkembangan zaman dan pergantian era, bahasa Dayak Ngaju semakin rentan bersaing dengan bahasa-bahasa daerah lain yang dibawa oleh penuturnya ke bumi Isen Mulang. Dalam pergaulan sehari-hari bahasa Dayak Ngaju terpinggirkan oleh bahasa seperti Jawa, Batak, dan yang terbesar adalah Banjar dibawa oleh pendatang yang ingin membuka lahan pekerjaan di ibukota Palangka Raya. Bahasa Dayak Ngaju tertatih di rumah-rumah tua dan semakin jarang terdengar dituturkan terutama oleh generasi muda yang sebenarnya bertugas menjaga denyut nadi identitas dan karakter suku Dayak ini.
Pada kenyataan sehari-hari kalangan muda Dayak Ngaju perlahan-lahan meninggalkan bahasa ibunya dan beralih ke bahasa lain. Jika dibiarkan hal ini pelan-pelan akan membunuh bahasa Dayak Ngaju di tanahnya sendiri. Kemunduran penggunaan bahasa Dayak Ngaju dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang memaksa warga Dayak di wilayah Palangka Raya untuk memfokuskan diri pada bahasa yang lebih dapat diterima secara luas, pemikiran akan penuturnya sendiri sebagai seseorang yang ketinggalan zaman jika menggunakan bahasa daerah dan cenderung menggunakan bahasa Banjar dalam pergaulan sehari-hari serta kurangnya kesadaran kaum muda untuk melestarikan bahasa dan terlalu bergantung pada para orang tua untuk meneruskan budaya Dayak Ngaju.
Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak dapat dibendung lagi. Penemuan-penemuan di bidang ini terus membeludak. Perkembangan IPTEK memiliki dampak positif dan negatif di berbagai bidang lain. Dengan majunya IPTEK, informasi yang akurat dan terbaru akan mudah disampaikan dan waktu serta jarak yang dulunya menjadi penghambat, sekarang tidak lagi menjadi masalah. Namun, kemajuan ini juga memiliki dampak negatif khususnya bagi perkembangan sosial dan budaya. Kota Palangka Raya yang merupakan ibukota provinsi menjadi daerah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling pesat. Warung-warung internet atau warnet menjamur di pinggir-pinggir jalan. Hampir setiap warga dari yang kecil sampai dewasa memiliki akses pribadi berupa telepon genggam. Masuknya jaringan internet juga memberi pengaruh signifikan pada penggunaan bahasa di kalangan muda. Tidak ada lagi seorang muda yang tidak mengenal kata Facebook atau Twitter. Betapa mudahnya informasi dan komunikasi secara nasional bahkan internasional, dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing menggerus bahasa daerah itu sendiri karena kemajuan ini mendorong penggunanya untuk berbahasa ‘gaul’ dan dimengerti oleh pengguna dari daerah lain yang mereka temui di dunia maya.
Faktor yang berpotensi ‘membunuh’ bahasa Dayak Ngaju lainnya adalah adanya suatu pemikiran akan rasa malu untuk berbahasa daerah. Seseorang yang bergaul menggunakan bahasa Dayak Ngaju dianggap ketinggalan zaman atau ‘kampungan’ dan penuturnya dicap sebagai “uluh lewu” atau “uluh ngaju”. Di Palangka Raya sendiri banyak ditemukan kejadian ketika seorang pemuda bertemu rekannya, mereka cenderung tidak percaya diri menggunakan bahasa Dayak Ngaju dan justru bergaul menggunakan bahasa daerah lain, bahasa Banjar sebagai contohnya yang berasal dari provinsi Kalimantan Selatan. Bahasa Dayak Ngaju perlahan tergantikan oleh identitas bahasa daerah lain yang terus tumbuh subur seiring dengan jumlah pendatang yang cukup besar setiap tahun. Sering kita jumpai keadaan di mana seorang pemuda lebih memilih memasang status Facebook menggunakan bahasa ‘gaul’ atau bahasa asing yang belum tentu mereka pahami benar artinya dibanding bahasa Dayak Ngaju di mana sebenarnya ia dapat memanfaatkan sarana internet sebagai pengenalan bahasa daerahnya ke lingkup yang lebih luas.
Kurangnya kesadaran kaum muda akan tugasnya untuk menjaga bahasa daerah membuat bahasa daerah menjadi semakin terancam keberadaannya. Terlebih bagi kaum muda yang hidup di ibukota Palangka Raya, sangat mudah terpengaruh perubahan zaman dan banyak memperkaya diri dengan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, namun lalai untuk mempertahankan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa ibu. Kaum muda cenderung bergantung pada para orang tua untuk melestarikan budaya. Bahkan di rumah-rumah sudah jarang terdengar kaum muda Dayak berdialog menggunakan bahasa Dayak Ngaju melainkan menggunakan bahasa Banjar yang tercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak.
Bahasa Dayak Ngaju harus terus dipertahankan khususnya di daerah asalnya terutama oleh kalangan muda sebagai pewaris kebudayaan sehingga karakter bangsa yang luhur tetap terjaga. Jika terus dibiarkan maka bahasa Dayak Ngaju akan ‘terbunuh’ dan tergantikan oleh bahasa daerah lain yang terus berkembang di wilayah Kalimantan Tengah khususnya kota Palangka Raya yang semakin maju dengan banyaknya pendatang dari daerah lain. Kemunduran penggunaan bahasa Dayak Ngaju oleh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), rasa malu serta tidak percaya diri  menggunakan bahasa daerah dan kecenderung menggunakan bahasa Banjar dalam pergaulan sehari-hari serta kurangnya kesadaran kaum muda untuk melestarikan bahasa Dayak Ngaju sesungguhnya dapat ditanggulangi dengan adanya suatu tindakan nyata untuk mencegah hal ini terjadi. Formula baru dibutuhkan untuk mencegah kepunahan bahasa Dayak Ngaju misalnya dengan membentuk komunitas-komunitas kecil kaum muda yang sadar dan percaya diri berbahasa Dayak Ngaju di lingkungan sendiri dengan baik dan benar. Bangga akan bahasa daerah sendiri dan jangan biarkan bahasa Dayak Ngaju mati terkubur, namun biarkan ia hidup lestari menjadi tuan rumah di tanah sendiri.














Daftar Pustaka

Fauzi, Iwan. 5 September 2002. Bahasa Ngaju Alami Krisis Pemberdayaan. Banjarmasin Pos.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah diakses pada 27 September 2011
Pemertahanan Bahasa Banjar di Komunitas Perkampungan Dayak. Makalah dipresentasikan pada Seminar Antara Bangsa Dialek-Dialek Austronesia di Nusantara III (SADDAN III), Fakulti Linguistik, universiti /brunei Darussalam, Bandar Seribegawan, 24-26 Januari 2008