Tuesday, January 17, 2023

Hai Ini Aku di Usia 31 Tahun

Pada usia 10 tahunan aaku bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi remaja. Dengan dada yang tidak lagi rata, dengan model baju yang sudah menampakkan jelas gender alamiah tubuh. Ternyata hidup di tubuh remaja usia 17an tidak terlalu buruk. Kita akan bertarung dengan jerawat, tamu bulanan yang menyakitkan, nafsu makan yang meluap-luap dan emosi seperti roller coaster serta kisah cinta pertama yang pasti berakhir gagal – seperti selayaknya semua kisah cinta pertama. Tapi hal yang menyedihkan itu tidak akan mematahkan tulang karena kita tahu masa depan masih panjang.

 

Lalu, apa cerita di usia 20an? Hidup sampai pada titik layaknya bunga mekar. Segala sesuatu terlihat indah, terlihat mungkin dengan segala kemampuan yang kita punya. Rambut rapi, masalah jerawat tadi sudah sangat membaik. Hal-hal di tubuh yang dulunya kita benci perlahan dapat kita terima bahkan pantas untuk disyukuri. Untuk pertama kalinya orang-orang menolehkan kepala Ketika kita lewat menyeruak di antara orang banyak.

 

Sekarang, selamat datang usia 30an. Aku baru memahami pepatah “mata adalah jendela hati” ketika pada malam ini aku bercermin dan melihat wajahku sendiri, mataku tampak lain. Tentu aku tahu persis kenapa; hidup sudah sebegitu kejam menghajar kita dari banyak sisi. Kulit mulus sudah bukan lagi yang utama. Aku hanya ingin hidup damai, sehat dan stabil. Rasanya jiwaku sudah tersedot terlalu banyak dan menyisakan sedikit energi hanya untuk sekedar bertahan. Hanya ada keinginan – bukan lagi ambisi. Kadang aku juga mempertanyakan apakah aku sudah mengambil jalan yang tepat untuk diriku sendiri? Dan nyatanya aku masih mengkhawatirkan masa depanku, masa tuaku ketika kukira seharusnya aku sudah tidak perlu melakukannya. Aku melihat garis-garis halus di sekujur tubuh terutama di wajah sekitar mata dan dahi. Bunga di usia 20an sudah mulai memudar. Tapi aku bersyukur karena Tuhan sudah menyelamatkan dari berbagai kemungkinan kematian. Dan satu hal yang dunia ajarkan, Cinta sejati hanya akan ditemukan pada pelukan hangat ibu kepada anak-anaknya dan bagaimana Tuhan Yesus menundukkan kepala ketika nyawanya perlahan meninggalkan tubuhnya karena cinta kasih yang begitu besar bagi umat manusia. Selain itu? Hanya mitos.

 

 

Friday, August 23, 2019

#randomthought : Dialah Yesus -- Seseorang yang Mengajarkan Bukan Mata Ganti Mata tapi Tampar Pipi Kiri Beri juga Pipi Kanan

Dear reader, whoever you are-- if there's anyone willing to read this-- I alert you to DO NOT come forward if you cannot deal with anything againts your idea. 
Skip aja kalau kamu tipe yang ga suka dikritik/terima sudut pandang orang lain atau silahkan terus baca, tapi jangan menyalahkan penulis atas isi blognya SENDIRI yang kamu baca atas keinginanmu SENDIRI.

------

cr: Pinterest

Pertama kali bertemu Yesus, aku berumur kira-kira 5 tahun. Sudah TK, awal-awal tahun ajaran 1996/1997, di rumah kami yang sudah lama terjual karena "masalah hidup", di sudut lain kota. Rumahnya belum 100% selesai. Dindingnya masih batako telanjang, belum ada langit-langit dan yang paling mudah teringat adalah hawanya yang panas luar biasa setiap malam. 

Waktu itu siang, aku dan adikku selesai bermain di salah satu kamar --  cuma ada 2 kamar sih, salah satunya kami putuskan jadi semacam ruang bermain. Adikku keluar duluan, jadi aku mengikuti di belakangnya. Kamar itu ga ada pintu, cuma tirai murah yang kainnya juga kasar. Tanganku sudah terjulur berniat menyibak tirai itu, tapi kemudian aku terdiam. Mematung, kaget. Ada sesosok bayangan dari ujung kepala sampai bahu terlihat tersenyum. Rambutnya emas, kepalanya dikelilingi cahaya persis seperti lukisan di latar belakang jam dinding yang ada di rumah Tambi -- nenek dalam bahasa Dayak. Hanya beberapa detik, lalu hilang. Tidak ada perasaan apa-apa saat itu. Cuma sedikit syok, lalu layaknya anak-anak aku tetap keluar dan bilang ke Mamah barusan aku lihat siapa.

Aku tahu itu siapa. Dia Yesus. Sosok yang Mamah selalu ceritakan, sosok yang Babah --  ayahku bersikap sangaat tabu untuk dibicarakan. Haram bahasa lainnya. Besoknya aku ubah caraku berdoa di sekolah. Aku lipat tangan, padahal hari sebelumnya Babah acarkan untuk buka tangan.

------

Perjumpaanku dengan Yesus hanya satu kali itu seumur hidup sampai sekarang. Kemudian aku mulai melihat mujizat-mujizatnya satu persatu dalam rumah tangga kami. Sampai-sampai aku takut jangan-jangan "jatah" mujizatku sudah habis, soalnya aku masih perlu banyaak mujizat lagi dalam hidupku. :')
 
Lalu big question'nya adalah "Siapa Yesus" bagi banyak orang. Di Indonesia lagi heboh-hebohnya beredar video seorang pemuka agama menjelaskan tentang salib. Beliau bilang ada jin'nya. Jin kafir. Jelas reaksi semua orang terbagi dua. Pro dan kontra. Dari pihak agama beliau pun sama. Ada yang setuju atas tindak tersebut ada juga yang menyayangkan dan berharap pihak yang dihina menuntut lewat jalur hukum kaya begitulah yang kemungkinan besar mereka lakukan ketika merasa bertanggungjawab untuk membela agamanya. 

Tapi ada plot twist di sini. Persekutuan gereja memberi pernyataan resmi tidak akan menuntut. Semua orang standing applause dan ada pula yang bertanya-tanya "Kok mau-maunya?".
Itulah Yesus. Dalam diri pengikutnya.
Meski besok-besoknya si pemuka agama tersebut bilang tidak akan minta maaf karena jika minta maaf hanya akan membenarkan bahwa apa yang beliau sampaikan salah, padahal beliau hanya membeberkan kebenaran. Beliau berbicara dalam ranahnya, untuk kalangan sendiri dan beliau bilang tidak mungkin memeriksa/melarang satu-persatu jemaahnya merekam dirinya berkhotbah.

Take it or leave it. Bahkan dalam hati terkecil siapapun yang mengikuti berita ini aku yakin tahu pihak mana yang bijak, karena bahkan dalam bisikan-bisikan terkecil sekalipun yang disampaikan dari satu-orang ke orang lain tidak ada celah kebenaran dalam menjelek-jelekkan orang lain. Betul kebenaran harus disampikan. Tapi bukankah kebenaran sekalipun adalah relatif? Kita tidak sepatutnya mengklaim kebenaran versi kita pada orang lain. Sampaikan kebenaran menurutmu, biarkan orang lain menilai kebenaran itu layak bagi dia atau tidak. Kamu bilang ada ayatnya, dalilnya. Biarkan mereka baca dan menarik kebenaran miliknya. 


Jujur, aku kesal juga setelah nonton video itu. Kesal karena bisa-bisanya jutaan orang terlena dalam menjelekkan apapun disekitarnya hanya agar supaya miliknya terlihat baik. Mereka senang karena menjelekkan itu sebetulnya terasa sangat nikmat, apalagi jika diperbolehkan, dicontohkan pula oleh pemuka agamanya sekalipun dalam ranah publik. Bergejolaklah kedagingan manusia yang pada dasarnya ga perlu diajarin jahat, dia akan bertumbuh subur sendiri. Hal jelek ga perlu dipelajari, hal baiklah yang harus terus menerus dilatih.

Analoginya begini, kamu sibuk mengkritisi halaman rumah tetangga sebelah yang menurutmu kenapa mesti nanam pohon mangga padahal nanam pohon jambu lebih gampang? Atau kenapa dia biarin anaknya mandi hujan padahal itu kamu yakin bisa bikin sakit? 
Terus, apakah dengan melakukan itu pohon jambumu akan tumbuh sedangkan kamu juga ga pernah nanam apa-apa karena sibuk ngeliatin tetangga? Atau tiba-tiba halaman rumahmu jadi bagus karena kamu mengkritisi tetangga? Apa kamu pernah cari tahu mandi hujan itu ternyata ada baiknya untuk melatih tubuh anak mengatasi perubahan cuaca? Apa anakmu yang ga pernah menyetuh air hujan itu ga akan pernah sakit sama sekali? 
Can you see what I mean?

Atau begini; sekalipun iya kamu nanam pohon jambu, pohon jambumu ga akan berbuah manis begitu saja karena kamu menjelekkan pohon mangga orang lain. Pohon jambumu akan berbuah baik kalau kamu selalu merawatnya dengan sabar dan telaten. Jadi sibuklah kasih pupuk dan siram dia setiap hari. 

Kebenaran akan selalu ada ditempatnya selama kamu cari. Ga akan ke mana-mana kok. Dan kebenaranmu ga akan bertambah hanya karena kamu lihat keburukan tetangga sebelah. Sibuklah mencari kebenaranmu. 
Air di tepayanmu ga akan tiba-tiba terisi penuh karena kamu rame-rame numpahin air di tempayan orang. Airmu akan penuh kalau kamu sibuk menimbakan air ke dalamnya dengan jerih payahmu. And I read somewhere,"If your faith requires you to harm others, you should start to question it."

Dan Tuhan Yesus juga tidak berhenti-henti membuat aku terheran-heran. Yesus ajarkan, 

"Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."
(Matius 5:38-39)

Kayanya susaah banget untuk taat. Tapi betul melalui kejadian ini, dengan tidak membalas, justru mengampuni, orang-orang awalnya pada penasaran bagaimana bisa, lama-lama cari tahu alasannya, akhirnya pelan-pelan mengenal ajaran kasih Yesus dan aku yakin banget, saat itu Roh Kudus mulai bekerja. Itulah bedanya hasil pekerjaan tangan Tuhan. Selalu membawa damai sejahtera. 

Dialah Yesus, yang bahkan ketika diadili ga ada satupun orang-orang menemukan kesalahan dalam dia yang layak membuatNya dihukum. Yesus disalib atas permintaan orang banyak--bukan karena didapati kesalahan dalam diriNya. Pontius Pilatus yang cinta jabatan dan takut ditinggal rakyatnya kalau ga nurut sama mereka akhirnya menyiksa seseorang yang dia akui sendiri tak dia dapati kesalahannya. Itulah Yesus, yang walaupun dihakimi dan dikhianati bukan karena dosanya tapi bahkan sampai detik terakhir hidupnya yang dia doakan, yang dia pikirkan hanyalah agar kesalahan kita manusialah yang diampuni. Dan akupun sampai detik ini, kadang masih bertanya disaat sulit, mana Yesus? Padahal Dia selalu ada di sini, aku yang pergi menjauh. :')

Kemuliaan Tuhan Yesus tidak akan berkurang karena penghinaan manusia. Allah tetap dahsyat, salib tetap lambang pengorbanan dan kasih Tuhan bagi umat manusia. :)

 

#thejourneyoflife : Nyatanya Dalam Susah Senang Hanya Tuhan yang Selalu Hadir

Hai, ini aku yang lagi terpuruk-terpuruknya mencoba menyalurkan semua emosi negatif lewat tulisan karena kalau bikin video terlalu ribet malah bikin stresnya bertambah. Salam!

Judul diatas terpikir sesaat setelah aku selesai teriak-teriak benar-benar TIDAK jelas dan mau nangis, cuma air mata pun kayanya terlanjur bosan muncul. Keseringan mungkin katanya. Lalu rekamin video nyanyi ala kadarnya yang liriknya kira-kira begini;

"Kubawa korban syukur, ke tempat KudusMu Tuhan, hatiku limpah dengan syukur sebab Tuhan baik. Selamanya~"

Dan aku tiba-tiba ingat, iya ya. Tuhan MEMANG selalu baik. Mau kemarin, hari ini, besok, selamanya. Rute hidupku sekarang mirip kaya visualisasi detak jantung di layar monitor film-film Hollywood, tapi disaat tokohnya sekarat, hampir mati. Semangatku sebentar-sebentar naik tinggi menjulang, sedetik kemudian meluncur jauuuh ke bawah. Terjun bebas. Terus datar, datar, datar, naik lagi, datar lagi, turun lagi bertingkat-tingkat. Benar-benar kacau. Hari ini tadi bisa dibilang rangkaian puncaknya (meski puncaknya pasti akan tetap banyak) aku ga tahan untuk teriak. Harus teriak sampai kepalaku sakit. 

Satu-satunya hal yang bikin tetap sadar, tetap waras adalah karena aku tahu, Tuhan Yesus ada. Aku cuma masih di fase abu-abu ini. Fase paling kubenci. Mau lompatin tapi ga mungkin dan masalah kali ini bukan jenis masalah yang akan selesai seiring waktu kaya patah hati. Benar-benar menguras semua pengertian, pemahamanku tentang hidup yang tidak sekedar hidup ini.

Tapi Tuhan kemarin bilang untuk jangan takut, percaya saja. Hari ini juga Tuhan bilang tetap bertekun dalam kesukaran. Tuhan Yesus satu-satunya yang bikin aku masih terjaga.


Ditulis pada tanggal : 04/08/2019
Pukul : 19:51

Wednesday, January 9, 2019

Life of a 27 Me

27.
Not a girl, not yet a woman.
Tapi lebih kepada 'woman' than 'girl'. Bisa dibilang on progress loading to a women about 70%.
10 tahun lalu -- yang artinya usia sekitar 17-- kira-kira kelas XII SMA, impian yang mampir ke saya hanya agar punya kulit lebih mulus dan cerah. Bebas dari minyakan dan jerawat. Terwujud sih, tidak lupa ditambah dengan gemukan juga :D

I'm married now and having my own job. Saya ga lagi merasa ga enakan kalo jawab pesan seseorang cuma 'Ok' atau 'Iya'. Ga lagi merasa kalau ulang tahun sebegitu istimewanya sampai saya tungguin beberapa hari sebelumnya, bikin resolusi macam-macam. Bisa tetap baik begini aja sudah suatu kemewahan. 
Waktu usia 17 saya pikir 27 akan sangat-sangat berbeda. Tapi ternyata struggle'nya masih sama; meragukan diri sendiri, mekhawatirkan masa depan, mempertanyakan pilihan sendiri. Tua dan dewasa ternyata memang beda. Paling-paling kalau 27 sudah ga enggan lagi ke mana-mana sendiri, makan di warung sendiri pun cuek aja. Itu aja kayanya :D

Untuk segala kekhawatiran, saya tidak pernah meragukan Tuhan. Apa yang bisa Dia perbuat, mukjizat apa yang mungkin saya terima. Yang saya ragukan adalah diri saya sendiri. Mengerikan membayangkan menjalaninya setiap hari, setiap menit, setiap waktu berharap sesuatu yang saya pun ga tau apakah akan terjadi seperti yang saya mau atau tidak. Karena kadang Tuhan kan gitu; memberi yang kita butuh, bukan yang kita mau. Saya takut usaha saya sia-sia dalam artian tidak berjalan seperti yang saya mau, karena nyatanya mau saya dan mau Tuhan ga sama. Nah kan, saya mulai meragukan diri saya!

Doa saya pun mulai berubah. Saya berdoa agar apapun yang terjadi dalam hidup saya, saya mohon Tuhan kasih kekuatan untuk menjalani prosesnya, menerima penuh kehendak Tuhan -- yang nantinya bisa jadi seperti yang saya doakan atau tidak --  serta tidak mempertanyakan keputusan Tuhan. Saya berpasrah karena tidak semua bisa saya kontrol dan Tuhanlah yang pegang penuh kendali hidup saya. Saya punya Tuhan sepenuhnya, hak absolut Tuhan atas hidup saya. 

Seperti kata Nabi Ayub, "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? " (2:10b). 

Bahkan sebelum semua-semuanya saya pernah membaca ayat ini dan saya terngiang-ngiang sampai sekarang saya balik lagi baca. Ayub malah memuji Tuhan dalam kelemahannya. Ga marah-marah kaya saya. Ya saya marah --  meski tidak benar-benar saya teriakan nyaring-nyaring tapi saya tau di dalam hati saya sana saya benar-benar marah. Saya merasa kok sayaaaaaa terus dikasih bagian yang susah-susah sementara 5,9miliar-sekian dikasih yang gamvannng. Why always me? kalau kata Neville Longbottom. Atau sebenarnya saya hanya menolak melihat lebih banyak berkat Tuhan kasih dan saya malah berfokus pada masalah saya? 

Mungkin saya yang 37 tahun bakal ketawa baca ini, atau malah reaksi lain? Saya ga bisa prediksi. Yang saya tau Tuhan Yesus itu baik. Saya yang lemah :')


Saturday, October 28, 2017

#Flash Fiction : New Disease

It's totally a flash fiction that came to my mind while I was driving few days ago. So I decide to share it here :D 


NEW DISEASE



cr : google


Sebuah desa di wilayah paling utara negara empat musim terserang suatu penyakit paling berbahaya sepanjang. Wabah endemik yang penyebarannya sudah tak terkendali sejak menyerang salah satu keluarga beberapa minggu yang lalu membuat pemerintahan di negara ini kacau balau. Mereka meminta bantuan negara-negara tetangga namun masih saja terbatas.

Jika kita pikir wabah terdahsyat mungkin datang dalam bentuk virus atau biotik berukuran nano yang menyerang imun tubuh sehingga kegagalan sistem sekecil apapun akan berdampak mengerikan, maka tidak untuk yang satu ini.

Ketenangan pagi berkabut terusik gerasah gerusuh beberapa orang-orang tua yang berlarian menenteng keranjang-keranjang kayu yang dibalut serbet pudar. Mereka tergopoh bergerombol di depan pintu kayu salah satu rumah paling tua di desa itu, berdesakan berusaha masuk. 

Di satu-satunya ruang paling besar di rumah itulah mereka berdiri mengelilingi seorang anak gadis yang tampak janggal berada di tengah-tengah orang-orang yang menatapnya sambil menahan tangis dan mengatupkan tangan menutup mulut. Ia bertanya dalam alunan nada dasar kenapa mereka mengawasinya demikian. Ibu si gadis tidak bisa berhenti menangis memeluk anaknya yang paling kecil sambil terus  membaca doa-doa yang dihapalnya sejak remaja. Si gadis justru makin bingung, ia terus bersenandung riang dalam lagunya sendiri. Tidak akan jadi masalah besar seandainya ia tidak melakukan hal itu sejak tiga hari yang lalu. Terus bernyanyi dan bernyanyi tanpa merasa kantuk atau lelah sedikit pun.

Itu baru kejadian pertama. Dalam lonjakan waktu ke depan, semakin banyak warga desa yang bertingkah demikian. Mereka terus mendengar musik di dalam kepalanya berputar tanpa henti. Musik sedih, gundah bahkan jenis musik yang membuatmu ingin melompat dari bukit tertinggi. Jika kau pikir beruntunglah yang mendapat musik riang gembira, maka itulah kesalahan pertama. Jenis musik ini mengiringmu pada kehidupan fana di mana rasa sakit hanya fatamorgana. Lebih mengerikan dari sekedar tertawa, si penderita akan kehilangan rasa simpati dan empati bahkan tertawa pada kematian.

Sedangkan musik sedih, mungkin pula kau pikir akan membunuh perlahan dari dalam, tapi kenyataannya beberapa orang mampu bertahan dengannya karena pada akhirnya ia menyadari kebahagiaan tidak hanya ada di kepalamu tapi juga pada kuntum bunga yang mekar tadi pagi atau pada kibasan debu di atas sepatu.

*******


Friday, August 4, 2017

#POEM : Sungguh Aku Iri

Pic Credit : Google Image


Aku iri pada mulus kulit wanita-wanita yang kau pelototi tiap malam berganti.
Pada cekung-cekung senyum mereka yang seolah menyatakan kepemilikan atas dunia.
Sebab, nyatanya aku tidak.
Aku iri pada helai rambut warna-warni yang terkait rapi di daun telinganya seolah menyatakan besok pasti baik-baik saja.
Sebab, nyatanya aku tidak.
Runtuh kakiku bersamaan dua ketuk jarimu.
Menyapu dengan amin geliat tawa yang akhir-akhir ini enggan pulang ke wajahku.
Dihantam kepalaku oleh dua ketuk jarimu.
Menendang jauh-jauh gulungan pita bahagia duniaku.
Kau dan mereka bergelayut di tingkat nirwana yang sama.

#POEM : Antara Aku dan Kamu

Pic credit : Pinterest

Berdiri jauh di seberang lautan kau meragu.
Mengeja jengkal-jengkal detik dari jam tangan hitammu.
Mungkin, suara pertama yang terdengar adalah "mengapa?"
Atau bisa jadi juga "ada apa?"

Berdoa saja aku di sini.
Rapat-rapat mengunci mulut dan telingaku.
Kujorokkan sebundel hati yang menggeliat di bawah tulang dadaku.
Ku lempar sejauh batas samudera yang kau isi dengan segala jawaban atas "mengapa" dan "ada apa"-mu.

Aku, bayangan yang bangga saja kau sembunyikan di sudut terpojok jiwamu.
Aku, nama haram yang mati-matian kau telan dalam-dalam tenggorokanmu.
Bersandar pada satu-satunya pengertian bahwa besok matahari pasti datang.
Menghirup satu-satunya harapan bahwa apapun yang terjadi, toh langit tetap tinggi.

--
CR : 05/08/2017 19.00 WIB 
Nulis di buku Daily Report adek satu-satunya yang isinya biodata nasabah. 

Saturday, July 29, 2017

#POEM : Aku Rindu

Aku rindu.
Sungguh aku rindu. Sampai ngeri rasanya.
Aku mau menatap wajahmu lama-lama.
Tepat di garis lengkung senyummu.
Tepat di kerut keningmu.
Tepat di pipi kirimu.

Aku ingin mengantungimu di sakuku dalam-dalam.
Hingga jika sewaktu-waktu rindu mampir, kau kan kukecup dan ku simpan lagi. Dalam-dalam.
Tapi aku takut.
Takut jatuh terlalu dalam, tiba di dasar.
Takut terluka oleh bunyi hikayatku sendiri.
Aku tak kan pernah mau menangisimu di pojok ruang menghadap dinding.
Tidak lagi. Aku sudah tua dan rapuh.
Usang dan berkarat.
Hatiku tak akan sanggup lagi.
Jangan datang malam ini.

#POEM : Seruan Bagimu Sang Pemilik Hati

Seruan bagimu sang pemilik hati.
Kukatakan dengan lantang,"Aku ingin menyayangimu dengan sempurna!"
Mendekapmu saat gerimis hujan mulai mengancam membawa dingin yang menusuk.
Menyeka peluhmu saat matahari terlampau senang.
Atau sekedar menatap matamu yang mulai sayu dipeluk kantuk.

Aku ingin menumpahkan cinta banyak-banyak setiap ruang dan percaya hatimu.
Penuh-penuh akan aku isi.
Sampai meluap-luap dari sarangnya.
Bisakah aku? Bolehkah aku?
Atau ini hanya aku berbicara pada gadis di seberang cermian yang menatap ragu?

-----
CR di pagi buta setelah tidur yang tidak nyenyak.

Saturday, January 14, 2017

Awareness Upon Cyber Bullying! | Kesadaran Akan Cyber Bullying!

Helloww, it's me. Again. Moody and lazy blogger -- yeah, you know.

First let me say; "Merry Christmas and Happy New Year!" Yeay! Yeay! My blog would have its own 9th Anniversary! Can you imagine that? I've been here, chit-chat, for almost 9th year! -- I'm not a productive blogger but, well at least, I did some  random articles which means I don't have certain focus as a good blogger. I admit that. However, ten year is not a short of time as you can see from my very first odd post to this new one at 2017 -- which still odd actually! 

Dari anak SMA ingusan sampai seperempat abad dan tetap ingusan! Hah! Dari yang background 'alay-alay cetar' sampai sadar simplicity is elegant! Kenapa waktu tahun 2008'an kepikiran punya blog? Well, sebenarnya cuma supaya dibilang keren. Kalau ada yang nanya, "Kamu kenal blogger tiiiit gak?" dijawab, "Eh iya dong. Gue kan blogger jugak!" Blogger abal-abal. On and off dengan artikel yang kebanyakan curhat, random dan mungkin gak guna! Sowwyyy~

But just so you know, pernah suatu kali postingan di blog ini punya viewers hampir ratusan per day! Padahal isinya juga gak penting, but thank's to that thing, I am recognized! Dan sampai sekarang page itu adalah the highest page of all time! Kalau iseng mau tau ini linknya ~> click



First posting ever ~> click (See? Kenapa hurufnya besar dan kecil? Kenapa tanda komanya gitu amat? Saya juga GAK tau! So excuse it please dan gak usah dibahas! Okay? Belum bisa bahasa Inggris juga :D)




Sooo, apa pula nyambungnya ke judul di atas? 

Jadi beberapa hari yang lalu iseng buka facebook yang sudah tak terjamah banget, dibuka kalo mau nyindir orang atau sekedar memuaskan kekepoan -- bah!-- and I was scrolling down and when I accidentally found an article about one of my friends. Her name is written very clearly alongside to her profile picture. First, I thought that was her post, but later I saw it was shared by someone else. Salah satu teman facebook share postingan seseorang-- let's call her Bunga ( mainstream? Sengaja!) tentang isi personal chatnya dengan caption something like "beware of this case that could happen to you too! What case? Si Bunga ini dilabrak sama si Bintang gara si bunga kasih 'love' ke salah satu status suami si Bintang. Lengkap dengan beberapa kata dari si Bintang yang kurang enak bagi si Bunga tapi diladenin juga sama dia. Panjanglah isi chat'nya. Intinya si Bunga bela diri karena katanya dia sudah biasa kasih emoticon 'love' ke status siapa aja, cewek maupun cowok, dan bukan cuma dia yang kasih 'love' ke status si suami, tapi kenapa cuma dia yang dilabrak, and so on, and so on. 
Apa yang terjadi kemudian? Mudah ditebak, it goes viral. As always. People are commenting and judging as they're the judge of the trial. Meski ada kok beberapa yang kasih komentar bagus dan dewasa. Thumbs up!

Intinya adalah bukan ke betapa sepelenya masalah ini sampai harus dipermasalahkan sama si istri, tapi -- in my opinoin -- kepada tidak etisnya nama, lengkap dengan profil picture dan isi chat yang disebar. Betapa cepatnya kita, dengan jari-jari gendut ini menuliskan komentar-komentar, menekan tombol kirim secepat kilat tanpa pikir barang 5-10 detik at least tentang dampak tulisan kita 1-2 menit kemudian. Si Bunga yang pada awalnya mengklaim tidak ada niat apapun dengan 'love' yang dikasih tadi dan jauh banget dari kata ingin menghancurkan rumah tangga orang lain, tapi tanpa pertimbangan matang sharing personal message lengkap dengan nama dan identitas si Bintang tanpa repot-repot mau blur atau semacamnya secara tidak langsung membuktikan bahwa dia 'berpotensi' mengganggu rumah tangga orang lain. Tidak cukup dengan kasih penjelasan kenapa itu 'love' bisa mendarat di sana? Atau cukup share kronologis tanpa -- sekali lagi -- share identitas nama si Bintang supaya -- seperti niat awalnya -- mau kasih warning ke orang lain supaya bahkan kasih 'love' di media sosial bisa jadi masalah? 
Terus sebenarnya korbannya siapa? Dua-duanya korban. Si Bintang entah mungkin pernah 'trauma' dengan kasus 'love' di media sosial si suami? Who knows. Atau lagi ada masalah keluarga yang mungkin bikin dia gak bisa mikir jernih dan jadi overprotective, 'cause, trust me, a broken heart woman could be the best villain. 
Si Bunga? As she said she's not married yet, so it STILL could happen to you too! One day maybe there's something wrong with your marriage then you sign up to your husband account and find a younger girl give random 'love' to your husband's post and you go mad. You send her personal message and nagging then the girl post it back and capture your chat while you try to make your lil daughter sleep cause she's been ill the whole day. And your husband comeback home to find it's already gone viral and your marriage is bullied online by so many people who doesn't even read the whole caption. Mungkin aja. 
In conclusion to what I'm going to say is please be wiser in using your social media. It's not a new thing that media could possibly destroy a nation. Apalagi cuma rumah tangga. Think twice, three times, four times when you type anything by your finger and also learn to do what God says "Do not judge," for the people who are commenting.

Sowwy it's in bilingual and oddly written karena pada hakikatnya ngoceh itu paling 'ngena' kalau pake first language yah. Duh jadi panjang kan! Dah. Bhay!

ps: I'm no one to be concerned to such case, not because I know one of them, but because I've been in kinda same experience as I was bullied online. No one ask for my explanation, they just seems so happy judging. Something's wrong with this society. Something's wrong with this world.





Wednesday, December 14, 2016

Does Education Define Someone's Integrity, Ability?

Does it? Or it doesn't? I've seen a very humble person with no good official education, and otherwise. There's no certain standard to measure someone's integrity and ability based on their educational level. But why this society seems to like bowing down for someone with higher education? Just, why is that? This kind of system is error.

#RANDOM : Cinta Si Penipu

Jangan percaya pada apapun yang ke mana-mana membawa label cinta, karena cinta adalah si penipu. Berusaha membuatmu percaya pada kilaunya, indahnya yang juga fatamorgana. Jauh-jauh dari cinta karena dia akan membuatmu sengsara. Terjebak dalam alam baka, tanpa cinta.

Sunday, May 1, 2016

#Random : Poem 1

pic source: pinterest

Terkadang merasa seperti dibenci. Bernafas untuk dibenci, tertawa untuk dibenci, melangkah untuk dibenci. Sempurna hanya ilusi jika kau mau tau. Kemarahan adalah pedang bermata dua; melukai dan melukai. Terkadang merasa seperti dibenci, bagaimana kalau mati?

Monday, February 1, 2016

UNSPOKEN TRUTH

Bagi banyak orang, yang tersulit adalah memulai. Yang tersulit adalah melangkah untuk pertama kali.
Bayangan ekspresi seperti apa yang harus digunakan, topeng yang mana. Kapan harus tertawa, tersenyum atau mungkin diam saja? Pertanyaan menggantung yang bahkan ragu harus dijawab atau tidak.
Aku dan kamu hanya fatamorgana. Tapi kupikir paling tidak kita bisa seperti angin. Tak berwujud dan tak berupa, tapi ada.
Terlalu banyak cerita yang harus kutelan lagi. Menggantung bagai daun layu terkulai. Segan hidup atau mati.
Aku dan kamu nyatanya hanya mitos. Kebohongan.

Wednesday, April 29, 2015

#Random : Hobby!

I'm kind of person who play the same favorite song over and over again all day long.
I'm currently in love with Ed Sheeran and his music, really calming. 




But, still, my most favorite music is the sound of the rain fall on the roof. Well, who doesn't?

Wednesday, March 11, 2015

#Random - Living The Life




Living the life. Hidup dalam hidup itu sendiri atau menjalani hidup atau menghidupi hidup. Yang mana saja!
Semua orang yang bernafas pasti 'living the life' tanpa ditanya dulu mau atau tidak. 
Tidak ada satu pun orang yang minta dilahirkan kedunia -- well, teori ini bisa jadi salah sih, karena tidak ada yang pernah benar-benar berfokus pada kehidupan SEBELUM kehidupan itu sendiri. Yang sering kita dengar pastilah kehidupan SETELAH kehidupan ini.




Dari fase bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa tak ada yang benar-benar siap. Setiap anak kecil didorong memasuki ranah remaja--oleh masyarakat, oleh umur. Setiap remaja diseret masuk dunia orang dewasa--sekali lagi oleh masyarakat, oleh umur. Dengan embel-embel "ketika saya seumuran dia saya rasa saya lebih rajin, lebih baik, lebih dewasa. Kenapa manusia jaman sekarang begini? Begitu?" Bukti bahwa sebagian besar orang tua sekarang JUGA diseret masuk ke dunia orang dewasa.

Sebagian orang menghabiskan hidupnya mengikuti jalan yang dia pilih sendiri. Kesusahan atau kesulitan, pasti setiap orang punya. Tapi mau menghadapi atau menghindari adalah pilihan. Atau menghadapi dengan bersusah payah, menghadapi seadanya, menghadapi dengan pasrah, juga pilihan.
Berapa banyak anak kecil yang pernah kita temui berbicara layaknya orang dewasa? Tentang hidup, tentang Tuhan, tentang pemikiran-pemikiran relatif yang kita semua harap benar adanya. Pemikiran seperti"orang baik pasti selalu menang di akhir." Seperti dalam plot-plot mainstream. Hanya saja kadang kehidupan punya alurnya sendiri. Ia malas dicap mainstream. Jadilah ia dengan plotnya yang anti-mainstream. Supaya apa? Supaya dunia banyak warnanya? Kalau banyak warnanya memangnya kenapa juga? Dengan satu-dua warna bukankah hidup tetap hidup? 

Kembali lagi ke anak kecil dengan pemikiran dewasa. Bukan anak kecil yang sok dewas-dewasaan dengan make up, tagar OOTD di akun-akun liar. Tapi anak kecil dengan prinsip. Dengan kesadaran sekaligus penyesalan diri akan hidupnya yang jauh berbeda dengan hidup anak-anak seusianya. Yang mencoba menganalisis kenapa dia jadi berbeda. Mungkin karena orang tuanya. Mungkin karena Tuhan. Tapi tidak cukup berani menyalahkan siapa-siapa. Kita pasti berdecak kagum seandainya pernah bertemu. Anak kecil yang bilang, "Kenapa sih mereka ini kekanak-kanakan sekali?" padahal dia juga anak-anak. Dan ketika diseret ke dunia dewasa sesungguhnya dia sudah terlalu lelah. Cahaya mataharinya sudah redup karena bersinar terlalu lama. Tapi sekali lagi hidup punya plotnya sendiri. Sering kali orang baik harus mati di akhir cerita. Supaya apa? Mungkin supaya penonton sadar bahwa orang yang benar-benar baik tidak pernah mengharap reward atas kebaikannya. Atau karena akal-akalan hidup saja supaya dia jadi yang paling terkenal di antara kematian, nasib, perasaan, dunia.

Pic cr : google

Sunday, February 1, 2015

The Imitation Game : Love or "Love"?



We all so proud of our love. For so many times. Love towards our boy/girlfriend, our parents, our best friends or even our self.
This movie successively made me questioning about the love I'm so proud of this whole time. Does it still allowed to call it love when your heart decided to give it to random person? because people said you can't choose to whom you fall in love. It happened to Alan Turing. His heart chose Christopher like we all have to our loved one. Homosexual had been a sensitive issue this day. But this movie brings some questions to me personally. How can a love called love? Should it be in the right place as always or we all actually can not choose at all?

Friday, November 21, 2014

A Letter Before Christmas








As you well know, we are getting closer to my birthday. Every year there is a celebration in my honor and I think that this year the celebration will be repeated.


During this time there are many people shopping for gifts, there are many radio announcements, TV commercials, and in every part of the world everyone is talking that my birthday is getting closer and closer. It is really very nice to know, that at least once a year, some people think of me. As you know, the celebration of my birthday began many years ago. At first people seemed to understand and be thankful of all that I did for them, but in these times, no one seems to know the reason for the celebration. Family and friends get together and have a lot of fun, but they don't know the meaning of the celebration. I remember that last year there was a great feast in my honor. The dinner table was full of delicious foods, pastries, fruits, assorted nuts and chocolates. The decorations were exquisite and there were many, many beautifully wrapped gifts.

But, do you want to know something? I wasn't invited.

I was the guest of honor and they didn't remember to send me an invitation. The party was for me, but when that great day came, I was left outside, they closed the door in my face .. and I wanted to be with them and share their table. In truth, that didn't surprise me because in the last few years all close their doors to me. Since I wasn't invited, I decided to enter the party without making any noise. I went in and stood in a corner. They were all drinking; there were some who were drunk and telling jokes and laughing at everything. They were having a grand time.

To top it all, this big fat man all dressed in red wearing a long white beard entered the room yelling Ho-Ho-Ho! He seemed drunk. He sat on the sofa and all the children ran to him, saying: "Santa Claus, Santa Claus"as if the party were in his honor! 

At midnight all the people began to hug each other; I extended my arms waiting for someone to hug me and do you know no-one hugged me. Suddenly they all began to share gifts. They opened them one by one with great expectation. When all had been opened, I looked to see if, maybe, there was one for me. What would you feel if on your birthday everybody shared gifts and you did not get one?

I then understood that I was unwanted at that party and quietly left. Every year it gets worse. People only remember the gifts, the parties, to eat and drink, and nobody remembers me. I would like this Christmas that you allow me to enter into your life. I would like that you recognize the fact that almost two thousand years ago I came to this world to give my life for you, on the cross, to save you. 

Today, I only want that you believe this with all your heart. I want to share something with you. As many didn't invite me to their party, I will have my own celebration, a grandiose party that no one has ever imagined, a spectacular party. I'm still making the final arrangements..

Today I am sending out many invitations and there is an invitation for you. I want to know if you wish to attend and I will make a reservation for you and write your name with golden letters in my great guest book. Only those on the guest list will be invited to the party. Those who don't answer the invite, will be left outside. Be prepared because when all is ready you will be part of my great party. 

See you soon. I Love you!

Jesus
Share this message with your loved ones, before Christmas

Taken from here

When will you get married?


“When will you get married?” So many people ask me that question like each time they see my face. It’s not a big deal for me at all, but it just make me think that; do they really think I’m ready enough to be a wife? A mother? Because I’m only 22 years old for your information Madam, Sir. I’m too young and not ready at all – this now on. I agree that maturity is not about age, it’s inside your mind. However, you can’t get rid of how age can define someone’s maturity. I don’t think marriage in a very young age—20 – 23 yo – is a good choice.  I live in a eastern society and people used to marriage in young age. It even become a disaster when a girl not married yet in age of 25 yo! How come? I just don’t get it. I don’t avoid married in young age. I just hope that people get married because they want to, they’re ready for it. Not due to the society. 




Sunday, October 12, 2014

as one of the requirements in language ambassador of central borneo election 2011

Terbunuhnya Bahasa Dayak Ngaju di Tanah Sendiri
Oleh : Riza Sriwahyuni
Bahasa Dayak Ngaju adalah bahasa dengan penutur terbanyak di wilayah Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangka Raya sebagai ibukota provinsi. Jalan-jalan sekeliling kota dipenuhi warga Dayak yang ramah dan berbahasa santun. Dari ujung ke ujung bahasa Dayak Ngaju terngiang dengan jelas diiringi senyum dan sapaan. Anak-anak kecil berlarian meneriakan seruan dalam bahasa ibunya. Sayangnya, kejadian seperti ini berlangsung bertahun-tahun yang lalu. Seiring perkembangan zaman dan pergantian era, bahasa Dayak Ngaju semakin rentan bersaing dengan bahasa-bahasa daerah lain yang dibawa oleh penuturnya ke bumi Isen Mulang. Dalam pergaulan sehari-hari bahasa Dayak Ngaju terpinggirkan oleh bahasa seperti Jawa, Batak, dan yang terbesar adalah Banjar dibawa oleh pendatang yang ingin membuka lahan pekerjaan di ibukota Palangka Raya. Bahasa Dayak Ngaju tertatih di rumah-rumah tua dan semakin jarang terdengar dituturkan terutama oleh generasi muda yang sebenarnya bertugas menjaga denyut nadi identitas dan karakter suku Dayak ini.
Pada kenyataan sehari-hari kalangan muda Dayak Ngaju perlahan-lahan meninggalkan bahasa ibunya dan beralih ke bahasa lain. Jika dibiarkan hal ini pelan-pelan akan membunuh bahasa Dayak Ngaju di tanahnya sendiri. Kemunduran penggunaan bahasa Dayak Ngaju dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang memaksa warga Dayak di wilayah Palangka Raya untuk memfokuskan diri pada bahasa yang lebih dapat diterima secara luas, pemikiran akan penuturnya sendiri sebagai seseorang yang ketinggalan zaman jika menggunakan bahasa daerah dan cenderung menggunakan bahasa Banjar dalam pergaulan sehari-hari serta kurangnya kesadaran kaum muda untuk melestarikan bahasa dan terlalu bergantung pada para orang tua untuk meneruskan budaya Dayak Ngaju.
Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak dapat dibendung lagi. Penemuan-penemuan di bidang ini terus membeludak. Perkembangan IPTEK memiliki dampak positif dan negatif di berbagai bidang lain. Dengan majunya IPTEK, informasi yang akurat dan terbaru akan mudah disampaikan dan waktu serta jarak yang dulunya menjadi penghambat, sekarang tidak lagi menjadi masalah. Namun, kemajuan ini juga memiliki dampak negatif khususnya bagi perkembangan sosial dan budaya. Kota Palangka Raya yang merupakan ibukota provinsi menjadi daerah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling pesat. Warung-warung internet atau warnet menjamur di pinggir-pinggir jalan. Hampir setiap warga dari yang kecil sampai dewasa memiliki akses pribadi berupa telepon genggam. Masuknya jaringan internet juga memberi pengaruh signifikan pada penggunaan bahasa di kalangan muda. Tidak ada lagi seorang muda yang tidak mengenal kata Facebook atau Twitter. Betapa mudahnya informasi dan komunikasi secara nasional bahkan internasional, dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing menggerus bahasa daerah itu sendiri karena kemajuan ini mendorong penggunanya untuk berbahasa ‘gaul’ dan dimengerti oleh pengguna dari daerah lain yang mereka temui di dunia maya.
Faktor yang berpotensi ‘membunuh’ bahasa Dayak Ngaju lainnya adalah adanya suatu pemikiran akan rasa malu untuk berbahasa daerah. Seseorang yang bergaul menggunakan bahasa Dayak Ngaju dianggap ketinggalan zaman atau ‘kampungan’ dan penuturnya dicap sebagai “uluh lewu” atau “uluh ngaju”. Di Palangka Raya sendiri banyak ditemukan kejadian ketika seorang pemuda bertemu rekannya, mereka cenderung tidak percaya diri menggunakan bahasa Dayak Ngaju dan justru bergaul menggunakan bahasa daerah lain, bahasa Banjar sebagai contohnya yang berasal dari provinsi Kalimantan Selatan. Bahasa Dayak Ngaju perlahan tergantikan oleh identitas bahasa daerah lain yang terus tumbuh subur seiring dengan jumlah pendatang yang cukup besar setiap tahun. Sering kita jumpai keadaan di mana seorang pemuda lebih memilih memasang status Facebook menggunakan bahasa ‘gaul’ atau bahasa asing yang belum tentu mereka pahami benar artinya dibanding bahasa Dayak Ngaju di mana sebenarnya ia dapat memanfaatkan sarana internet sebagai pengenalan bahasa daerahnya ke lingkup yang lebih luas.
Kurangnya kesadaran kaum muda akan tugasnya untuk menjaga bahasa daerah membuat bahasa daerah menjadi semakin terancam keberadaannya. Terlebih bagi kaum muda yang hidup di ibukota Palangka Raya, sangat mudah terpengaruh perubahan zaman dan banyak memperkaya diri dengan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, namun lalai untuk mempertahankan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa ibu. Kaum muda cenderung bergantung pada para orang tua untuk melestarikan budaya. Bahkan di rumah-rumah sudah jarang terdengar kaum muda Dayak berdialog menggunakan bahasa Dayak Ngaju melainkan menggunakan bahasa Banjar yang tercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak.
Bahasa Dayak Ngaju harus terus dipertahankan khususnya di daerah asalnya terutama oleh kalangan muda sebagai pewaris kebudayaan sehingga karakter bangsa yang luhur tetap terjaga. Jika terus dibiarkan maka bahasa Dayak Ngaju akan ‘terbunuh’ dan tergantikan oleh bahasa daerah lain yang terus berkembang di wilayah Kalimantan Tengah khususnya kota Palangka Raya yang semakin maju dengan banyaknya pendatang dari daerah lain. Kemunduran penggunaan bahasa Dayak Ngaju oleh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), rasa malu serta tidak percaya diri  menggunakan bahasa daerah dan kecenderung menggunakan bahasa Banjar dalam pergaulan sehari-hari serta kurangnya kesadaran kaum muda untuk melestarikan bahasa Dayak Ngaju sesungguhnya dapat ditanggulangi dengan adanya suatu tindakan nyata untuk mencegah hal ini terjadi. Formula baru dibutuhkan untuk mencegah kepunahan bahasa Dayak Ngaju misalnya dengan membentuk komunitas-komunitas kecil kaum muda yang sadar dan percaya diri berbahasa Dayak Ngaju di lingkungan sendiri dengan baik dan benar. Bangga akan bahasa daerah sendiri dan jangan biarkan bahasa Dayak Ngaju mati terkubur, namun biarkan ia hidup lestari menjadi tuan rumah di tanah sendiri.














Daftar Pustaka

Fauzi, Iwan. 5 September 2002. Bahasa Ngaju Alami Krisis Pemberdayaan. Banjarmasin Pos.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah diakses pada 27 September 2011
Pemertahanan Bahasa Banjar di Komunitas Perkampungan Dayak. Makalah dipresentasikan pada Seminar Antara Bangsa Dialek-Dialek Austronesia di Nusantara III (SADDAN III), Fakulti Linguistik, universiti /brunei Darussalam, Bandar Seribegawan, 24-26 Januari 2008