Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, July 29, 2017

#POEM : Aku Rindu

Aku rindu.
Sungguh aku rindu. Sampai ngeri rasanya.
Aku mau menatap wajahmu lama-lama.
Tepat di garis lengkung senyummu.
Tepat di kerut keningmu.
Tepat di pipi kirimu.

Aku ingin mengantungimu di sakuku dalam-dalam.
Hingga jika sewaktu-waktu rindu mampir, kau kan kukecup dan ku simpan lagi. Dalam-dalam.
Tapi aku takut.
Takut jatuh terlalu dalam, tiba di dasar.
Takut terluka oleh bunyi hikayatku sendiri.
Aku tak kan pernah mau menangisimu di pojok ruang menghadap dinding.
Tidak lagi. Aku sudah tua dan rapuh.
Usang dan berkarat.
Hatiku tak akan sanggup lagi.
Jangan datang malam ini.

#POEM : Seruan Bagimu Sang Pemilik Hati

Seruan bagimu sang pemilik hati.
Kukatakan dengan lantang,"Aku ingin menyayangimu dengan sempurna!"
Mendekapmu saat gerimis hujan mulai mengancam membawa dingin yang menusuk.
Menyeka peluhmu saat matahari terlampau senang.
Atau sekedar menatap matamu yang mulai sayu dipeluk kantuk.

Aku ingin menumpahkan cinta banyak-banyak setiap ruang dan percaya hatimu.
Penuh-penuh akan aku isi.
Sampai meluap-luap dari sarangnya.
Bisakah aku? Bolehkah aku?
Atau ini hanya aku berbicara pada gadis di seberang cermian yang menatap ragu?

-----
CR di pagi buta setelah tidur yang tidak nyenyak.

Saturday, February 4, 2012

Tuhan Dengar Aku

Tuhan aku lemah.
Aku ingin mendengar Firman dan janjiMu sebagai kuat hatiku.
Kakiku lemah lunglai dan aku tak mampu.
Tuhan lihatlah duniaku berduka.
Aku berdosa dan congkak hati. Namun kasihMu menegurku. Tuhan jangan berpaling dariku. Gundah gulana jiwaku menangis tanpaMu. Bagai benang yg basah tulangku tak bertopang. Hanya janji setiaMu yg mmpu kuatkan aku. Tuhan ini aku anakMu. Penuh lumpur kemunafikan dan ikhtiar palsu. Ampuni aku Tuhan. Terima sujud dan persembahan hatiku. Tak sanggup kujauh dariMu. Matilah jiwaku memanggil namaMu.

Wednesday, January 25, 2012

(Puisi) Hati Gila

Jika hati bisa bicara, mengapa ia diam saja dirobek sang penguasa?
Jika hati memang ada, mengapa ia mesti mati ditelan nestapa?
Bergaul dengan lagu tanpa nada
Dibungkam asmara duka
Benci dan bencana berdansa di lantai pesta
Hati marah, menangis, meraung gila
Tapi tak ada yang mendengar
Ia terjebak dalam kesunyian hiruk pikuk pesta pora
Ia terbelenggu inginnya jiwa.