Saturday, November 2, 2013

Dongeng Tentang Badai Cinta Pertama

Jika kau berharap ini tentang kita atau tentangmu, itu salah. Karena semua hanya ada aku.
Jika kau pikir ini tentang cinta, maka kau salah kira juga. Karena ini tentang badai pertama.
Jika kau terka ini sebuah kenyataan, maka kau terperangkap dalam imajimu sendiri karena jika kau benar-benar membaca etalase yang ku pajang kau akan tahu bahwa ini hanya dongeng. Dongeng tentang badai cinta pertama.

Seperti semua bentuk kehidupan yang selalu berawal dari sebuah tanya, begitu pula lembaran kisah satu ini.
Dan yang mendapat giliran pertama adalah "Siapa aku?"
Aku bukanlah siapa-siapa seperti yang kau tahu. Aku hanya seorang pendongeng yang berpindah dari satu dunia ke dunia yang lain. Aku cuma pemimpi yang bahkan tidak nyata. 
Dan siapa dirimu yang kusebut-sebut? Kau kebetulan mendapat bagian sebagai wayang, sebagai tokoh, sebagai khayalan. 
Siapa aku dan siapa dirimu kukira tidak begitu penting karena toh kuberitahu saja, akhirnya kita tidak bersama. Kita tidak pernah muncul dalam satu frame yang sama. Ya, bukan tentang kita. Hanya tentang aku si pendongeng dan pemimpi ini.

Badai cinta pertama, begitulah aku menyebutnya. Sedikit sejarah tentang judul yang kusematkan di dahiku adalah karena ketika aku berpikir siapa nama cerita yang laksana hantu ini? Aku menemukan tidak mungkin untuk kupanggil Cinta Pertama saja. Cinta pertama tidak seperti ini. Tidak berloncat-loncatan tak terarah. Seolah tubuh tak bernyawa yang berpura-pura hidup. Jadi kutambah saja kata "Badai" yang memang mewakili keseluruhan rasa dari permen kisah ini. Badai. 
Bukan badai hebat yang meluluhlantakan harapan dan membunuh banyak senyum. Hanya saja ini badai pertama. Aku tidak pernah melihat atau merasakan badai yang sesungguhnya, jadi kuasumsikan saja ini badaiku. Badai milikku yang ada kamunya.

Aku ini hanya pemimpi. Benarkan? Begitulah aku sampai badai ini berlalu. Aku berharap kau tidak kembali. Tapi kau kembali. Meski dalam bentuk mimpi. Tapi karena aku memang pemimpi dan semua berawal dari mimpi jadi aku akan baik-baik saja dengan begini. 

Baris ini adalah keseluruhan cerita. Baris ini adalah awal dan akhir. Semua kujelaskan dalam satu kata. Mimpi. Dengan sang pemimpi dan pendongeng yang berbagi satu tubuh. Hanya begitu.

Monday, September 23, 2013

Be Positive!

So many people are looking for happiness. Money, crown or anything is gained to earn happiness. God always whispers that He is the true happiness. But this body, this world doesn't want to hear Him. We are too busy to searching for something that has been made for us since the very beginning. Sometimes it's hard to say "Thank you Lord, everything is ENOUGH" because human mind are designed to say "Please Lord give this, give that". Be positive for everything you have now. Realize that you are unique, special in your own way. You don't need any person to say you're smart or beautiful or whatever because you ARE now even without they say so.



Wednesday, September 18, 2013

End and Begin



So can we call it as the ending of everything ? No more school, no more task, no more homework -- wait, people will ALWAYS have it -- no more classmate! I just realized it today when I met one of my friends who is going to Japan next week. Seeing his face made me think that I will not see him for about a year later. But it doesn't matter because it's only a year, then it woke me up in  a second. It is for lifetime. Well, I mean yes, indeed, we will meet again someday. SOMEDAY. Can you see that?? And it's not only something to do with him but with all of my friends. We'd spent about 4years together. In up and down. We'd been through all the things -- not really, but almost-- all the things. Now everything comes to an end. Each of us will make our own story further. In real life. I do really mean REAL life. After the graduation.

It's not that easy to accept a new routine in your life. However, maybe it's just because it's me. Which is mean me, the one who always be over-thinking of something. I don't know.  Or maybe because I'm kindda melodramatic person. You can say. I cannot pretend like I'm ok with everything happening now. I'm sad. I'm a bit confused. It's hard to move on when it's about me. I love my life. Before this. And I HAVE to love my life after this. I just hope that one day when we meet again, I can say that I am a better person. In everything. And my friends do the same. That we--all of us-- will be succeed in anything we hold. I will never forget ESA 2009. You are part of my life. Forever and ever. I may not know all of you in person but I'll still love you guys. I can't wish for any better friends but you all. Everything was just too perfect. It hurts me thinking that there's no more story in class anymore but it makes me happy too by thinking that we are the best grade.  Unless,  for me. Because everything will be seen as HOW you WANT to see. We're the chosen on. So, no farewell but a pray. One day, when the time comes, there's always be a beautiful story among us!


Tuesday, September 10, 2013

Worse Than A Broken Heart

Semua orang pasti pernah merasa diabaikan dan ditinggalkan. Seorang anak harus belajar mandiri ketika masuk ke ruang kelas untuk pertama kali. Seorang mahasiswa harus meninggalkan kampung halaman dan menuntut ilmu di negeri orang. Seorang wanita harus mengangkat kaki dari rumah meninggalkan orang tuanya untuk menikah. Ditinggalkan. Meninggalkan. Dua hal serupa tapi berbeda. Namun tetap menyisakan rasa yang sama. Kesedihan. Kegundahan dan yang paling mengerikan adalah ketidaktahuan.


Kesedihan melingkupi berbagai hal. Tidak lagi bersama. Tidak lagi bertemu bahkan mungkin bertegur sapa untuk beberapa kasus yang lebih serius. 
Kegundahan adalah perkara lain. Mau melangkah atau memilih mundur? Mudah saja jika kita yakin melangkah adalah benar dan mundur adalah salah. Akan berbeda jika melihat melangkah dan mundur merupakan hal yang sama baiknya. 
Kemudian berbicara tentang ketidaktahuan. Lebih mengerikan diantara semua. Tidak tahu akan menjadi apa, harus bagaimana. Terlalu banyak pertanyaan merayapi tulang pungung dan membekukan hati. 

Tapi seperti berulang kali manusia hadapi. Kita dipaksa untuk memaklumi kehidupan. Untuk angguk2 saja pada tingkahnya yang kadang seenaknya. Kehidupan layaknya seorang anak kecil. Kita yang dewasalah yang harus mengerti.
Lebih mengerikan dari pada patah hati.

Sunday, July 28, 2013

Cerita Kematian

Tak ada yang suka berbicara tentangnya...
Semua wajah berpaling dan buta tiba-tiba...
Hanya jumpa hampa ketika ucapkan namanya...
Kematian tercatat melekat dalam setiap takdir...
Paham atau tidak...
Tak ada yang pernah bertanya 
Karena kita hanya duduk diam menerima.

Awalnya ia hanya sosok asing yang hidup di kotak lain dunia.
Kematian hanya legenda belaka.
Tak ada yang pernah menceritakan siapa dia padaku.
Sampai ketika pertama kali kami bertemu aku menatap wajahnya ketika ia bahkan tidak bicara.
Bukankah ia hanya legenda? Lalu, ini siapa? Kematian itu bukannya hanya cerita? Bagaimana bisa ia mewujud nyata?

Kematian adalah bagian dari kehidupan, kata orang.
Kematian diciptakan sama kunonya dengan kelahiran.
Hanya saja ketika menjejakkan kaki ke tanah manusia, tak ada yang mau lebih mengenalnya karena ia ditakdirkan kelam. 
Andai aku sudah mengenalnya sejak dulu. Mungkin tidak akan ada rupa-rupa tanya.
Tapi kematian butuh waktu, butuh izin lebih untuk muncul.

Yang paling ditakutkan dari kematian adalah ketidaktahuan akan kematian itu sendiri, kata Albus Dumbledore dalam Harry Potter yang berarti adalah pemikiran JK. Rowling lebih tepatnya.
Itu pasti benar karena tak ada yang tahu apa cerita setelah kematian.
Lebih menakutkan lagi kehidupan yang bersanding dengan kematian daripada kematian itu sendiri.
Karena ia datang bersama kehampaan. 
Mahalnya saat-saat melihatmu duduk saja bernafas di ruang ini. Sulitnya menghadirkan jiwamu untukku buat cerita lagi. Kematian telah berkenalan. Mampir beberapa kali. Detik setelahnya adalah yang paling muram. 
Kujawab apa ketika mereka bertanya kau di mana?
Haruskah aku mengganti biasa dengan derita?
Duduk saja disitu, diam saja sudah lebih dari cukup. 
Mungkin itu kenapa tak pernah ada yang mau bercerita tentang si kematian pada anak-anak kecil yang otaknya warna-warni.